Sejarah Kerajaan Perlak

Sumatra adalah kepulauan Indonesia pertama yang mendapatkan pengaruh Islam melalui perdagangan. Daerah ini juga merupakan situs awal kemunculan kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan Islam pertama yang muncul di kepulauan ini adalah Kesultanan Perlak.

Kekaisaran muncul pada abad kesembilan dan berlangsung hingga akhir abad ketiga belas. Ada bukti yang menunjukkan keberadaan Kesultanan Perlak sebagai kerajaan Islam pertama termasuk sebuah naskah yang selamat dari kebenaran Abu Ishaq Maakrani, dan naskah Tadskira.

Validitas Sultan Juma oleh Syekh Siamsul Bahri Abdullah Al-Asi adalah naskah salinan Raja Raja Perlak dan Pasai oleh Tuan Abdullah bin Sayyid Habib Saif.

Kondisi Geografis Kerajaan Perlak

Selat Malaka telah lama dikenal sebagai rute komersial utama kepulauan. Pedagang dari seluruh dunia berlayar melintasi selat untuk melaksanakan perdagangan, dan dari selat ini ajaran agama baru memasuki nusantara.

Sebelum pembentukan Kesultanan Malaka, perjalanan Selat Malaka tidak melewati pantai Semenanjung Malaka, melainkan melintasi sisi barat Selat Malaka yang membentang di pantai Sumatra. Kota pantai yang paling penting pada saat itu adalah Melayu, yang terletak di muara Sungai Patanjari, Jambi.

Pada Desember-Maret di utara khatulistiwa, angin musim timur laut, memungkinkan kapal-kapal komersial India dan Cina berlayar di perairan Selat Malaka. Kapal-kapal tetap di perairan Selat Malaka sampai Mei, sebelum berlayar untuk kembali ke negara mereka menggunakan monsun barat daya.

Produk pertanian Sumatera juga merangsang perdagangan internasional di Selat Malaka. Aceh adalah daerah penghasil utama lada saat itu. Menurut pedagang Arab dan Cina, budidaya lada dimulai di Aceh pada abad kesembilan, yaitu di daerah Perlak, Lamory dan Samudra.

Tetapi lada bukanlah tanaman asli di Aceh, melainkan tanaman dari Malagasi (Madagaskar). Pedagang dari Semenanjung Arab dan Persia membawa paprika ke Aceh dan mencoba menanamnya di daerah tersebut. Dari pengalaman ini, ditemukan bahwa tanah dan iklim Aceh sangat cocok untuk menanam tanaman lada.

Dalam waktu singkat Aceh tumbuh menjadi daerah produksi dan ekspor lada terbesar pada waktu itu. Bandar Perlak adalah pelabuhan utama di pantai timur Sumatera Utara. Wilayah ini terus tumbuh dan berkembang menjadi kota komersial internasional yang dikunjungi oleh pedagang dari seluruh dunia, termasuk pedagang Muslim.

Latar Belakang Berdirinya Kesultanan Perlak

Kesultanan Perlak

Wilayah Perlak Kerajaan Perlak

Nama Perlak diambil dari nama Perlak Wood. Jenis kayu ini adalah kayu khas di wilayah Perlak. Atas dasar ini, area produksi kayu Perlak selanjutnya disebut Negara Perlak.

Saat perdagangan menjadi semakin ramai di Selat Malaka, pedagang disebut Perlak Bandar Perlak State. Buku Negarakertagama menyebut negara itu sebagai Barlac. Sementara Marcopolo yang mengunjungi negara itu pada tahun 1292 mencatatnya dengan nama Verlik negara.

Sebelum berdirinya Kesultanan Perlak, di wilayah Perlak, kerajaan rekayasa Buddha sederhana yang disebut Kerajaan Perlak telah dibuat. Raja yang memerintah di kerajaan ini memiliki gelar Murrah, yang berarti Maharaja.

Perlak tumbuh ketika dia dipimpin oleh Pangeran Salman, pangeran yang berlumuran darah di Damaskus, Al-Farisi.

Putri Pangeran Salman kemudian menikah dengan Muhammad Jaafar Siddiq, seorang pengkhotbah dari negara Arab, yang kemudian akan turun dari pendiri kesultanan Islam pertama di kepulauan itu.

Menurut teks Edhar al-Haqq, sekitar 790 M, sebuah kapal layar mendarat di Bandar Perlak. Kapal itu membawa seratus misionaris yang dipimpin oleh pemimpin kekhalifahan Abbasiyah. Kapal itu datang dari Cambay Bay, Gujarat dan berlabuh di Bandara Perlak.

Salah satu pengkhotbah bernama Ali bin Muhammad Jaafar Sadiq. Dia adalah seorang Muslim Syiah yang memberontak terhadap khalifah yang diremehkan. Namun, upayanya menemui kegagalan, dan sebagai hasilnya ia diperintahkan untuk berkhotbah di luar negara-negara Arab sebagai hukuman.

Setelah beberapa waktu berkhotbah di Bandar Perlak, Ali bin Muhammad Jaafar menikahi seorang saudara lelaki dari Putri Istana Perlak.

Putra pertama dari pernikahan itu bernama Syed Mawlana Abdul Aziz Seeh. Dia berhasil mendirikan Kesultanan Perlak pada 840 M, sebagai Kesultanan Islam (Syiah) pertama di kepulauan itu. Setelah sukses mendirikan Kesultanan Perlak, ia menerima gelar Sultan Alauddin Syed Mulanan Abdul Aziz Sayah.

Pengembangan Kesultanan Perlak

Sultan Alauddin Syed Mawlana Abdul Aziz Seeh memerintah Sultan Berlak pertama sampai tahun 864 Masehi. Setelah kematiannya, Kesultanan Perlak memimpin cucu-cucunya, yang dijuluki Sultan Alaeddin Syed Mawlana Abdul Rahim Seeh.

Dia memerintah selama periode 864-888 M, kemudian Sultan Abd al-Rahim Seeh menggantikan Sultan Alaeddin Syed Maulana Abbas Seeh, yang telah berkuasa selama 25 tahun, dari 888 hingga 913 M.

Setelah kematian Kesultanan Berlac yang ketiga, tidak ada kesultanan baru yang dipasang di Kesultanan Berlac. Ini disebabkan oleh kondisi yang tidak menguntungkan di Kesultanan Perlak.

Kondisi ini muncul karena perang saudara antara rakyat Perlak, yaitu perang antara pengikut Syiah dengan Sunni dan masyarakat (Sunni).

Dua tahun kemudian, ketika konflik antara sekte mereda, Syed Mawlana Ali Mughiyat Seeh diangkat sebagai Sultan baru Kesultanan Perlak. Dia memerintah hanya dalam waktu yang relatif singkat, dan pemerintahannya hanya berlangsung tiga tahun.

Pada 918, pada akhir pemerintahan Sultan Ali Mugiat, konflik antara Syiah dan Sunni muncul kembali. Dalam perjuangan kedua, Sunni memenangkan kemenangan, sehingga Sultan yang akan memerintah kemudian datang dari Sunni.

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Abdul Qadir Seeh Johan Sovereign diangkat sebagai Sultan Perlak Sultan pertama yang berasal dari kelompok Sunni.

Dia memerintah pada 928-932 setelah kematian sultan pertama, digantikan oleh Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Muhammad Amin Sayyah Yohan al-Siyadi. Dia memerintah untuk waktu yang lama, dari 932 hingga 956 M.

Sultan berikutnya adalah Sultan Makhdoom Alaeddin Abd al-Malik Seeh Yuhan al-Siyadi, yang memerintah antara 956-983 M.

Pada akhir pemerintahan Sultan Abd al-Malik Sayyah, ada konflik ketiga antara Syiah dan Sunni. Konflik itu berlangsung empat tahun dan berakhir dengan perjanjian damai yang membagi Kesultanan Perlak menjadi dua wilayah:

Bagian pantai yang dikontrol oleh kaum Syiah Barlak. Daerah kantong pantai dipimpin oleh Sultan Alaeddin Syed Mawlana Saih, yang mengambil alih kekuasaan pada 976-988 Masehi.

Perlak bagian dalam, didominasi oleh Sunni. Dipimpin oleh kerajaan dalam Perlak, Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Ibrahim Seeh Johan Sovereign, yang memerintah antara 986 dan 1023 M.

Serangan dan Integrasi Sriwijaya Dengan Samudera Pasay

Pada 986 M, kerajaan Sriwijaya (kerajaan gaya Budha di Nusantara) menyerang Kesultanan pesisir Perlak. Perang besar meletus di mana pasukan kedua kerajaan terlibat.

Dalam perang ini, pesisir Sultan Perlak, yang adalah Sultan Alaeddin Syed Mawlana Mahmud Seeh meninggal dalam pertempuran.

Setelah peresmian pesisir Sultan Perlak, Kesultanan Perlak secara keseluruhan akhirnya diperintah oleh sultan Sunni dari Perlak Bedalaman. Sultan Malik Ibrahim Seeh segera menanggapi kehadiran pasukan Sriwijaya di wilayah Perlak dengan memicu penduduk Perlak untuk berperang melawan Sriwijaya.

Pertempuran besar yang terjadi selama bertahun-tahun. Perang antara kedua kerajaan berakhir hanya pada 1006 M, ketika Sriwijaya memutuskan untuk mundur dari pertempuran untuk mempersiapkan serangan Raja Dharmawangsa dari Medang di Jawa.

Dengan berakhirnya perang antara Kesultanan Perlak dan Kerajaan Sriwijaya, wilayah Perlak secara keseluruhan dipimpin oleh keturunan Sultan Malik Ibrahim Sayyah yang berasal dari kelompok Sunni. Pada saat ini situasi Kesultanan Perlak relatif damai, tanpa perang melawan kerajaan asing.

Berikut ini adalah nama dan keputusan Sultan Perlak setelah kematian Sultan Malik Ibrahim Sayah:

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Mahmud Seeh Johan Siyadi (1023-1059 M).

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Mansour, turis, Johan Sovereign (1059-1078 M).

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Abdullah Seeh Johan Siyadi (1078-1109 M).

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Ahmed Sayyah Johan Sovereign (1109-1135 M)

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Mahmud Seeh Johan Sovereign (1135-1160 CE)

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Othman Seeh Johan Sovereign (1160-1173).

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Muhammad Sayyah Johan Al-Siyadi (1173-1200)

Sultan Makhdoom Alaeddin Abd al-Jalil Seeh Johan Perdolta (1200-1230).

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Muhammad Amin Seeh II Johan Al-Siyadi, memerintah antara 1230-1267). Sultan memiliki dua putri, putri Ratna Kamala dan Alga. Menurut beberapa sumber, puteri pertama menikahi Sultan Malaka yang disebut Sultan Muhammad Sayyah dikenal sebagai Paramiswara dan Puteri Al-Taie menikah dengan Sultan Samudera Pasay pertama, dan raja yang baik juga dikenal sebagai Mira Silo.

Sultan Makhdoom Alaeddin Malik Abd al-Aziz Sayyah Johan Perdolta (1267-1292).

Munculnya Kerajaan Samudera Pasay pada 1267 M, perlahan bersaing dengan pamor Kesultanan Perlak. Sultan Malik Abdul Aziz Seeh adalah Sultan terakhir dari Kesultanan Perlak.

Setelah kematiannya, tanah Kesultanan Perlak digabung dengan Kerajaan Samudera Pasay pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, bin Mira Silo. Merger oleh Sultan Samudera Pasai, sementara itu menandai berakhirnya pemerintahan kekaisaran pertama di nusantara.

Leave a Comment